Ruangan BK (Bimbingan Konseling) yang ada disetiap sekolah yang ada di Indonesia merupakan sebuah tempat yang cukup angker dan mengerikan bagi sebagian orang terutama siswa atau siswi yang bermasalah.
Pagi itu Hendra terbangun dari tidurnya dengan nafas yang megap-megap, seperti sedang semaput habis dikejar anjing. Jelas ngos-ngosan, Hendra baru saja dilanda mimpi buruk yaitu, mimpi tentang ia bermasalah dengan sekolah, guru dan temanya. terbangun dari mimpi buruk yang menghampirinya ia pun menatap tajam ke arah jam dinding yang tergantung antara surat yasin dan foto mantannya.
Matanya terbelalak melihat jarum jam menunjukkan pukul 06:45 AM yang berarti 15 menit lagi gerbang sekolah akan segera ditutup. Tanpa berpikir panjang dan tanpa hitungan satu dua tiga Hendra bergegas meloncat dari kasur menuju kamar mandi hanya untuk mencuci muka sekilas saja dan berkumur-kumur. "Plah.. plah.." Hendra memuntahkan air keruh berbau neraka dari mulutnya.
Setelah itu ia langsung mengenakan seragam yang sudah disetrika dengan rapi oleh si mbok, tanpa sempat membersihkan dan merapikan kamar dengan mengeluarkan jurus kagebunsin ninjutsu ia meninggalkan kamar hanya dalam waktu kurang dari 60 detik. Arem-arem dan wedang di meja makan yang sudah disiapkan oleh si mbok untuk sarapan pagi itu ditinggalkannya begitu saja.
Begitu cepat gerakan Hendra hingga ia nyaris saja menabrak bapak yang sedang memberi makan anak ayam di halaman rumah. Dengan nada tanya "ojo kesusu le, mau kemana toh" nyaris setiap hari Hendra bangun kesiangan dan hampir setiap hari pula bapak menanyakan hal yang sama yaitu "jangan terburu-buru, mau kemana ?" atau setiap kamis pahing bapak mengganti pertanyaannya dengan nasehat namun masih dengan kalimat ojo kesusu hanya akhirannya saja yang diganti menjadi "ojo kesusu le, mengko ilang anu ne".
Begitu paniknya Hendra karena takut terlambat datang ke sekolah hingga ia lupa mengenakan sepatu, padahal sudah keluar halaman. Kemudian ia kembali lagi dengan langkah yang begitu cepat bagaikan seorang atlet lari sea games. Didapatinya sepatu di teras rumah yang memang juga sengaja sudah diletakkan si mbok supaya mempermudahnya jika telat bangun.
***
Mbok begitu perhatian dengannya sebelum berangkat ke pasar, si mbok sudah mempersiapkan semua keperluan Hendra dengan baik dan rapi sehingga ketika anak bungsu dari 3 bersaudara itu terbangun semuanya sudah siap dan tak ada yang kurang satu apapun. Bapak hanya tertawa cekikikan melihat tingkah Hendra yang jauh berbeda dari dua orang kakaknya yang kini sudah berkeluarga dan satunya sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di salah satu perguruan tinggi yang ada di Jogja.
**
Hendra memilih untuk tidak mengenakan sepatunya ia berlari menyusuri sawah dan aliran irigasi melangkahkan kakinya yang bertenaga kuda dua kali lebih cepat dari biasanya. Karena sudah terbiasa terlambat dan berlari kencang bahkan ia sudah tahu bahwa kecepatannya untuk mencapai sekolah dengan berlari yaitu 20 km/jam atau jika dimenitkan sekitar 5 menit. Namun baginya 5 menit itu biasa, oleh sebab itu Hendra selalu berusaha untuk berlari lebih cepat dan memecahkan rekor baru di bulan ini. Karena satu bulan yang lalu waktu tercepat yang pernah ia dapatkan yaitu 4 menit 59 detik lebih cepat satu detik dari biasanya. Oleh sebab itu ia terus berusaha supaya ia dapat memecahkan rekor terbaru dan berharap semoga gerbang belum ditutup oleh pak Sarmin, kalau tidak tamatlah riwayatnya.
Karena satu bulan ini ia sudah terlambat lebih dari 12 kali. itu artinya dalam satu minggu rata-rata Hendra terlambat sekitar 3 kali dan lebih spesifiknya lagi pada senin pon, rabu legi, dan kamis pahing.


0 komentar:
Posting Komentar