Suatu hari di awal Desember aku terduduk diam menatapi tetesan air hujan yang jatuh kian deras mengalir tak kunjung henti dari atas genteng. Sejujurnya dalam tatapan yang kosong itu aku melamun, teringat akan seseorang yang dulu pernah melewati hujan bersama denganku di suatu malam minggu.
Hujan yang turun begitu deras ketika itu membuatku ingin menghentikan kendaraan, ketika itu dan aku berkata apakah kita akan berteduh ? namun dengan suara yang samar-samar karena tertutup suara air hujan yang mengguyur ia berkata "jalan saja terus aku akan bersamamu sekalipun dalam badai".
Dalam hatiku, aku berkata ini adalah wanita paling gila yang pernah aku temui, hujan lebat petir kilat seperti ini ia masih tetap ingin terus melanjutkan perjalanan, begitu derasnya hujan ini sampai-sampai jas hujan yang kami gunakan tak mampu menahan guyuran air hujan yang kian deras membuat kami tetap saja basah kuyup sekalipun sudah menggunakan jas hujan.
Namun akhirnya di tengah-tengah perjalanan hujan itupun sedikit mereda, kemudian aku ingin berhenti untuk membuka jas hujan karena hujannya sudah benar-benar berhenti namun ia memintaku untuk tetap menjalankan kendaraannya. Kemudian ia berkata sembari memelukku "kalo pake jas hujan orang lain ngga liat kalo aku lagi meluk kamu" sambil tertawa.
Lagi dalam hatiku berkata baru kali ini aku menemui wanita sepertinya, sikapnya yang manja membuatku terkadang suka merasa lucu, karena aku belum pernah menemui wanita sepertinya, dan ini menarik bagiku sejak dulu aku ingin sekali punya pacar yang manja dan akhirnya hari ini aku bisa merasakannya.
Sudah hampir 1 jam kendaraan ini melaju aku menikmati perjalanan ini bersamanya, kami mengobrol dan bercerita banyak hal, tentang satu sama lainnya. Haripun sudah larut aku memutuskan untuk segera mengantarnya pulang aku tak ingin teman-temannya khawatir karena sebelumnya ia tak pernah keluar sampai selarut ini.
Malam ini meskipun hujan aku merasakan kebahagiaan, begitupun dia karena kami baru saja memulai hubungan yang selama ini aku inginkan, usahaku untuk mendapatkan hatinya tidak mudah, ada banyak hal dan rintangan yang aku alami sebelum malam ini.
Sepuluh bulan yang lalu kami tak sengaja dipertemukan oleh takdir Tuhan, dalam sebuah kesempatan yang sulit untuk dilupakan, ketika itu aku memang tak sendiri begitupun dirinya, ketika itu kami sama-sama memiliki pasangan, dan aku pun paham betul bahwa jatuh cintaku pada saat itu adalah salah.
Karena pada saat itu aku juga sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita lainnnya, namun tak bisa ku jelaskan bahwa mengapa aku jatuh cinta dengannya, "kok bisa ?"Pertanyaan itu pun selalu di lontarkan oleh Ningrum kepadaku, baginya hal semacam itu tidak mungkin terjadi. Namun faktanya itu terjadi dan aku pun telah jatuh cinta padanya.
Sampai akhirnya beberapa bulan setelah pertemuan itu, aku mengalami pertengkaran hebat dengan kekasihku saat itu, pertengkaran itu dikarenakan kekasihku cemburu melihat chatingan di BBM ku dengan wanita lain, sebetulnya wanita itu adalah temanku dan ia tetap tak percaya dan menuding aku telah bersalah dan berselingkuh, hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hubungan kami.
Ketika kejadian itu terjadi sejujurnya aku juga sudah diam-diam memberanikan diri untuk mendekati Ningrum, dan keputusan kekasihku saat itu untuk mengakhiri hubungan aku terima dengan perasaan sedih yang lebih banyak bahagianya. Karena dalam hatiku berkata inilah kesempatan ku untuk benar-benar bisa dekat dengan Ningrum, meskipun saat itu aku sedikit khawatir ia tidak akan memperdulikan ku, karena saat itu Ningrum sudah memiliki kekasih.
Namun aku bukanlah aku, jika aku menyerah untuk mendapatkannya hanya karena ia sudah ada yang punya, aku terus mencari-cari perhatian melalui chatinganku dengan Ningrum. Namun aku masih menutup rapat-rapat Tentang isi hatiku padanya, aku tak ingin dalam waktu yang singkat ini ia mengetahuinya.
Sampai akhirnya aku melihat sebuah postingan di Facebook ia diantarkan oleh kekasihnya ke bandara, aku pun merasa sedih melihat itu, pikirku ketika itu sudah tak ada lagi kesempatan untuk memilikinya, sejak saat itu aku mencoba untuk tak lagi berharap, aku mencoba untuk memendam perasaanku. Ketika itu aku sedang teraniaya, dan aku pun berdoa, karena katanya doa orang yang teraniaya itu terkabulkan.
Selama lebih dari 1 bulan aku memendam kekecewaan itu, karena sebelumnya aku juga pernah membuat janji untuk berangkat ke Jogja bersama-sama dengannya, dalam hatiku untuk saja ketika itu aku tak memilih untuk berangkat bersamanya, kalau tidak betapa sakitnya hatiku ketika melihat ia diantar oleh kekasihnya di bandara.
Lama aku tak menghubunginya, aku sedang berusaha untuk legowo menerima kenyataan bahwa ia sudah memiliki kekasih yang begitu ia cintai, namun ketika aku kembali ke Jogja semangatku untuk kembali mendekati dan merebut hatinya begitu menggebu-gebu tak tertahankan, pertama aku coba untuk menghubunginya melalui BBM, awalnya kami hanya chatingan sekali dalam satu pekan, berlanjut menjadi beberapa kali dalam sepekan, dan tanpa aku sadari kini aku sudah hampir setiap hari, setiap saat, setiap detik bercengkrama dengannya, entah itu melalui BBM, WA.
Kami mulai saling menanyakan kabar, dan pada suatu hari aku memberanikan diri untuk menelponnya, hingga menjadi kebiasaan setiap harinya. Kini aku merasa sangat dekat dengannya, dan kini juga aku sudah tahu bahwa ia juga sudah tak lagi bersama kekasihnya, membuat aku yakin inilah saatnya aku bisa merebut hatinya, aku bisa menunjukkannya bahwa aku benar-benar cinta.
Sampai aku mendapatkan kabar darinya bahwa ia, akan pergi keluar kota beberapa Minggu untuk melaksanakan tugas praktik kuliah, entah mengapa aku merasa sedih jika harus berpisah darinya, hingga pada suatu sore aku memberanikan diri untuk datang menemuinya, sebelum ia pergi keluar kita. Dan pertemuan untuk yg ke 3 kalinya itu aku masih saja merasa deg-degan, aku merasakan malu untuk bertemu dengannya dan aku juga merasa bahagia bisa melihatnya langsung.