Secangkir kopi dan roti isi sudah tersedia di meja surat kabar membentang antara tangan kanan dan kiri menutupi wajah sang pembaca dan sesekali terlihat mata tua ketika dibaliknya lembar demi lembar kertas tipis hitam putih berisikan berita-berita miring tentang selebriti

Pernah suatu malam aku duduk beberapa jarak darimu tak terlalu jauh dan juga tak terlalu dekat. Namun dari tempat aku memandangi malam masih bisa ku dengar tawa-tawa lepasmu yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang.

Sesekali aku melirik atau bahkan memandangimu dari jarak yang ada. Kulihat senyummu tersungging menebarkan aroma keindahan pada setiap insan manusia yang melihatnya. Namun dari sepanjang waktu aku hanya melihatmu sekali menatap tepat ke arah ku yang sendiri membisu dalam pelukan malam yang dingin. Detik demi detik itu terasa lebih lama dari biasanya, namun aku masih sabar menanti dan menikmati dingin yang ada.

Ketika jari jemariku mulai meraba-raba keyboard di layar 4,5 inchi tiba-tiba saja terdengar keras suara tawamu membelah ruang kosong yang tadinya hening. Meskipun setelah itu tak begitu hening karena beberapa ritme musik berpadu menjadi alunan sebuah lagu yang aku nikmati dengan begitu dalam.

Tak beberapa lama setelah lagu-lagu bernada syahdu itu berhasil menghipnotisku membawaku kedalam zona nyaman. Mata ku menjadi gelap seketika dan tak kudapati terangnya cahaya disekitar seperti ditutupi dengan sebuah tangan halus beraroma harum.