Kebijakan pemerintah daerah kabupaten/kota maupun provinsi membangun asrama mahasiwa di setiap kota-kota besar yang ada di Indonesia khususnya kota-kota yang ada di pulau Jawa merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap mahasiwa/i dari daerah yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Hal tersebut direspon baik oleh para orang tua dan mahasiswa dengan memanfaatkan fasilitas yang ada untuk dapat mengurangi beban atau biaya tempat tinggal selama menuntut ilmu di negeri orang. Hal ini juga dirasa amat baik dan sangat membantu bagi orang tua dan mahasiswa yang kurang mampu walaupun, tidak semua yang tinggal di asrama mahasiswa daerah itu adalah warga masyarakat ekonomi menengah ke bawah namun juga ada yang datang dari golongan menengah ke atas bahkan tak jarang kerabat dari pejabat daerah pun ada yang tinggal dan membaur bersama dengan golongan dari strata sosial lainya yang ada di asrama.
Jika melihat hal tersebut sepertinya dengan dibangun dan didirikanya asrama untuk mendukung dan memberikan kemudahan terhadap mahasiwa yang menimba ilmu di rantau sangatlah positif. Bahkan di luar dugaan ternyata asrama juga dapat mempersatukan orang yang berstatus sosial kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah menjadi satu kesatuan dan tak terjebak dalam strata sosio ekonomi yang pada zaman ini semakin terlihat ketimpangannya.
Namun inilah realita yang harus diterima bagi kita umat manusia yang tinggal di planet bernama bumi ini. Segala sesuatunya bisa terjadi dengan mudah, kapan saja, dan dimana saja. Seperti halnya Konflik yang juga sering terjadi dikalangan para penghuni asrama mahasiwa daerah. Meskipun berasal dari nagari yang sama dan dilahirkan dari daratan yang sama tidak dapat menjadi sebuah jaminan akan terciptanya kerukunan dan kedamaian antar satu dan yang lainnya.
Konflik-konflik yang munculpun sebetulnya bukanlah sebuah hal yang terlalu serius namun terkadang diciptakan oleh hal-hal yang bersifat sederhana dari percikan kecil yang di iringi baper (bawa perasaan) hal ini sering dialami oleh anak cucu hawa. Namun karena sering dibiarkan berlarut-larut dan di bumbui oleh rasa baper berlebih membuat hal kecil tersebut menjadi Konflik yang berkelanjutan dan melahirkan war of heart.
Ketika sudah terjadi permasalahan atau konflik maka harus segera di atasi dan diorganisir dengan baik melalui manajemen konflik yang tepat supaya dapat mencegah terjadinya war of heart. Karena bagaimanapun juga mencegah lebih baik dari pada mengobati.
Berdasarkan informasi yang kami himpun dari wikipedia, Manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi Mary Parker Follet ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, teroganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Secara etimologis manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur". Kata manajemen mungkin juga berasal dari bahasa Italia maneggiare yang berarti "mengendalikan", terutama dalam konteks mengendalikan kuda, yang berasal dari bahasa latin manus yang berarti "tangan". Lalu Perancis mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Demikianlah serentetan pengertian dari manajemen kemudian yang harus kita pahami selanjutnya ialah apa makna dari kata Konflik yang sesungguhnya. Apakah sebuah ketidak sepahaman antar satu dan lainnya atau pertentangan yang muncul dari suatu kelompok terhadap kelompok lainya, atau kelompok tehadap individu dan pertentangan antar individu dengan individu lainya.
Konflik sendiri berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Lahirnya konfilk pun dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu ekonomi, politik, sosial, adat istiadat, suku, ras dan agama. Namun jika melihat dan menelaah konfilik yang terjadi di asrama mahasiwa daerah bukanlah konfilik yang disebabkan oleh beberapa faktor tersebut melainkan konflik yang lebih batiniah seperti yang saya katakan sebelumnya ialah baper (bawa perasaan).
Hal ini terjadi karena tidak dapat membedakan antara masalah keorganisasian asrama mahasiwa daerah dengan urusan pribadi masing-masing, kita ambil satu contoh kasus "seorang ketua asrama menegur anggotanya yang tidak mengikuti kegiatan kerja bakti dan memberikan hukuman kepada sang pelanggar, hukuman yang diberikanpun sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya sesama penghuni asrama".
Apa yang dilakukan oleh ketua asrama tersebut adalah suatu tindakan yang wajar dan memamg sudah seharusnya ia lakukan selaku ketua dan sudah selayaknya didapatkan oleh oknum tersebut sebagai seorang pelanggar aturan. Namun diluar dugaan ternyata sang oknum pelanggar merasa dilecehkan oleh ketua asrama yang juga teman satu kamarnya atas apa yang telah dilakukan oleh ketua asrama terhadap dirinya yang melanggar aturan.
Sehingga melahirkan bibit kebencian yang disertai aroma baper yang menyeruak hingga hal-hal yang bersifat pribadipun ikut serta dalam war of heart yang akan segera berlangsung hingga waktu yang tak ditentukan. Terdengar sepele memang namun apabila dibiarkan hal tersebut akan terus berlanjut sampai salah satu pihak merasa tertekan dan dengan berat hati meninggalkan asrama dengan penuh rasa kebencian dan sakit hati yang mendalam. War of heart belum juga berakhir bahkan masih akan terus berlanjut, karena tidak pernah dilakukan mediasi atau sudah pernah melakukan mediasi namun gagal.
Melihat sering terjadinya hal semacam ini rasanya perlu dibentuk pengawas atau pihak yang berfungsi mengontrol segala macam bentuk kegiatan yang dilakukan oleh mahasiwa yang bersemayam di kamar-kamar asrama mahasiwa daerah itu. Serta dengan hadirnya pihak yang kami maksudkan itu, supaya bisa menjadi penengah dan pendamai dari masalah-masalah dan pertikaian yang terjadi antar anggota asrama.
Diharapkan juga pihak yang menjadi penengah adalah pihak yang jauh di atas mahasiwa dalam segala hal baik usia maupun kematangan berpikir. Serta untuk mencegah keberpihakan tehadap suatu kelompok atau golongan individu yang sedang bertikai. Jelas dibutuhkan pihak yang netral dan tidak ternodai rasa kebencian yang muncul dalan war of heart yang sedang berlangsung.
Apa yang saya kemukakan memang tidak terlalu ilmiah namun kiranya hal ini dapat menjadi perhatian khususnya bagi pemerintah pemilik asrama mahasiwa daerah untuk lebih baik lagi dalam melakukan controling terhadap asrama-asrama yang dimiliki. Serta tulisan ini kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengkaji lebih dalam lagi permasalahan-permasalahan yang sering mencuat di kalangan mahasiwa yang menempati fasilitas yang disuguhkan pemerintah ini. Supaya tidak terjadi lagi konflik ataupun pertikaian yang tidak kita inginkan, serta bagaimana melakukan manajemen konflik yang baik dan terorganisir tanpa merugikan salah satu pihak yang bertikai dan untuk mengugurkan embrio konflik yang lahir dari kekhilafan seorang umat manusia dalam menjalankan perannya sebagai aktor sosial.
Jogjakarta, 22 Agustus 2017.
Anugrah A.S