Zalimnya KRSan

Pagi itu sukri bangun pagi-pagi sekali, ia terlihat sangat bersemangat meskipun wajahnya sangat tak enak dipandang. karena rambutnya belum disisir kelimis dan diolesi minyak rambut ajaib sejenis pomed yang dapat membuat segala jenis rambut dan bulu menjadi keras.
Namun hari itu entah sukri lupa atau sengaja tak mengenakan minyak rambut ajaib kebanggannya itu, karena ia begitu tahu bahwa hari ini akan menjadi lebih keras dari rambutnya yang diolesi pomed ajaib itu.
Hari yang keras...... ! sukri berteriak, membuat seisi kos-kosan menjadi gaduh suaranya terdengar melolong di selasar kosan hingga sampai keluar mengusik bahkan mengagetkan beberapa orang yang sedang sarapan di burjo dekat tempat tinggal sukri.

Alangkah lebih terkejutnya sukri melebihi terkejut orang-orang yang mendengar teriakannya barusan, "mata kuliahnya udah di ambil adik kelas, bajigur" sukri membanting gelas plastik satu-satunya yang ia miliki, sama seperti kekesalanya itu. "Tinggal satu mata kuliah lagi, kampret........ !" sukri memaki, matanya masih terus tertuju pada layar komputer yang ada di depannya, tiba-tiba saja layar itu berubah menjadi hitam kelam lebih hitam dari rambut sukri yang setiap pagi bermandikan vitamin rambut.

"Matiii Lampuuu... PLN... juga Sialan !" lagi suksri memaki, kali ini giliran pintu kamar kosnya yang rapuh itu di banting. Daaaar....... !!! bahkan ia sendiripun kaget mendengar suara pintu itu, sembari menatap baut-baut yang berserakan dan ensel yang sedikit lagi akan terlepas bersamaan dengan posisi pintu yang terlihat lelah dan miring kekanan.

Sukri masih diam tak berbuat apa-apa, bahkan ia tak menghiraukan kegaduhan yang ada di grup  Whatsapp angkatannya. Kipas angin yang berada di belakangnya kembali berputar, lampu kamarnya redup karena mungkin sudah bosan melihat keluh kesah sukri pagi ini atau mungkin bola lampu itu tidak pernah diganti sejak tempat itu berdiri sehingga ia sudah lelah melihat orang-orang yang pernah berkeluh kesah di kamar itu setiap 6 bulan sekali salah satunya adalah sukri.

Hanya mati lampu sebentar saja ternyata, terdengar suara ibu kos sukri dibalik pintu yang miring kekanan karena dorongan keras sukri tak mampu dihalaunya sebagai pintu yang sudah usang. Namun yang dirasakan sukri seperti sepuluh tahun harus menanti semuanya kembali seperti sedia kala persis ketika ia menanti waktu yang tepat untuk berdamai dengan mantanya yang selingkuh ketika ia masih duduk di bangku SMP dulu.

Beranjak dari lamunannya sukri bergegas membuka SIA (Sistem Informasi Akademik) tiba-tiba kedua bola matanya melotot melihat ada satu kelas yang masih menyisakan satu orang untuk bergabung, tanpa berpikir panjang tangan sukri langsung refleks menggenggam mos dengan kuat, dan menghantamkan jari telunjuk kanannya pada tombol bagian kiri dari mouse komputernya yang kecil berwarna biru tua.

Dengan tepat ia mengarahakan kursor di layar pada tulisan [ Ambil 39/40 ] lagi sukri harus menunggu, matanya tak ingin lepas dari layar komputer, tangan kananya masih memeluk erat mouse biru tua hadiah ulang tahun dari kekasihnya setahun yang lalu ketika mereka masih bersama melalui masa-masa sulit KRSan, tertawa terbahak-bahak karena bisa KRS dengan lancar mengambil mata kuliah semester 6, sedangkan dikamar sebelah ada kakak tingkatnya yang kebingungan karena jatahnya telah di serobot sukri dan kekasihnya yang kini juga telah diserobot oleh mahasiswa saintek asal cilacap yang diketahui sebagai tetangganya sendiri.

Masih dalam lamunannya sukri mencoba menyelinap ke masa lalunya, sembari mengingat-ingat bahwa dulu ia pernah dengan bahagia bisa mengambil mata kuliah semester 6 tanpa menghiraukan kakak tingkatnya yang kebingungan dan pusing tiada kepalang karena kalau tak bisa mengambil mata kuliah psikologi konseling maka itu artinya di semester 8 sang kakak tingkat masih harus bercengkrama dengan bangku perkuliahan yang hitam dan dingin, kelas yang panas, dosen yang terlambat, dan berdampingan dengan adik tingkat.

Begitu dalam sukri tenggelam dalam lamunan bahwa ia juga akan mengalami hal yang sama seperti yang di alami kakak tingkatnya, sukri terlihat begitu menyesal matanya berkaca-kaca membayangkan dirinya harus datang ke kelas di semester 8 hanya untuk mengikuti 2 SKS perkuliahan, ada yang lebih menyakitkan dari itu semua bahwa keinginan sukri untuk menikahi siti aisyah di awal tahun 2018 bisa pupus kalau ia masih harus kuliah di semester 8.

Matanya yang berkaca-kaca itu tidak menyadari tulisan dengan latar belakang hijau, yang bertuliskan MATA KULIAH PSIKOLOGI KONSELING KELAS C BERHASIL DITAMBAHKAN.
Retina matanya tak cukup peka membaca tulisan itu, kelopak matanya terlihat mulai melebar sembari tangan kirinya meraba-raba mencoba menggapai kaca mata bergagang coklat dan meletakkannya dengan terburu di atas hidungnya, berkali-kali ia mencoba memperbaiki posisi kaca matanya dan bola matanya sesekali terlihat terpejam.

Kali ini retina matanya mencoba bekerja maksimal menatap dengan penuh hasrat ke arah layar komputer, yang direspon sangat baik oleh mulutnya yang tiba-tiba mengeluarkan suara dengan decibel cukup tinggi dan sedikit fals. Ooooooouuuooouuuuuuuuohhhhhhhhoooouhhhuuuuuhhhh............. persis seperti suporter sepak bola yang sedang berdiri tanpa baju di tribun timur membawa botol bertuliskan aqua dan berbau menyengat seperti spirtus namun dengan bahagia berteriak untuk klub kesayangannya yang sedang bertanding di lapangan hijau.

Sukripun berteriak sejadi-jadinya bahkan ia melompat-lompat, tubuhnya yang kurus terlihat bagaikan kepingan triplek yang membatasi kamarnya dengan kamar kakak tingkat yang pernah ia rebut haknya. Cacing-cacing di perut sukri terombang ambing terkulai lemas setelah 2 jam mendengar makian dan gumaman yang di lontarkan sukri, ditambah lagi loncatan-loncatan seperti kangguru yang dilakukan sukri saat ini membuat cacing diperutnya kewalahan dan juga merasakan lelah karena semalam hanya diberikan sukri satu porsi indomie soto dengan telur setengah mateng. apapun masalahny, sesulit apapun hidupmu makannya tetap INDOMIE.

0 komentar:

Posting Komentar