Kehidupan
      Suatu hari di sore senja tepat bulan Desember akhir kala itu jarum jam mengarah ke angka  IV di jam tangan ku namun saat sepeda motor ku melewati tugu ikan arwana yang memiliki tiga sisi dan setiap sisinya terdapat jam dinding sebagai penunjuk waktu bagi pengendara yang lewat lebih terkhusus jam dinding itu di persembahkan kepada PNS , Pekerja Timah, Buruh Tani, Polisi, Guru, Serta Tukang sayur dan masyarakat kecamatan gantong supaya tidak terlambat dan selalu datang tepat waktu ke tempat berkerja salah satu contohnya adalah bang hasan yang setiap harinya melewati tugu itu namun jika jarum jam menunjukkan tepat ke angka VI dan itu terjadi di pagi hari itu artinya bang hasan telah terlambat maka seperti kata Orang Tua rejekinya sudah di patok ayam lebih tepatnya lahan parkir bang hasan di pasar gantong telah lebih dahulu di kuasai oleh alen seorang lelaki sejati paru baya yang jika ditimbang kurang 1 Ons dan Jika di ukur lebih 1 Cm  mungkin itu adalah rumus yang tepat yang telah di temukan masyarakat  melayu gantong untuk menentukan kewarasaan seseorang . Lelaki itu selalu memakai seragam seperti polisi jika di lihat dari jarak jauh namun jika dilihat dari jarak dekat lebih terlihat seperti anak pramuka, entah apa yang ada dalam  dipikirkannya namun jika di perhatikan dia sangat merasa ganteng apabila memakai seragam tersebut mungkin dia merasa kegantengannya itu sekelas artis Bollywood.  Namun rasa perihatin menghampiriku karena kasihan kepada bang hasan yang lahan parkirnya di serobot oleh lelaki yang senang menggunakan seragam tak jelas itu,  namun itulah hidup sebetulnya bang bang hasan masih bisa menjadi juru parkir hanya saja lahan yang di dapatkan olehnya tak terlalu luas mungkin hanya bisa menampung 5 sepeda motor serta 3 sepeda keranjang milik para penjual kue. Akan tetapi rezeki haruslah tetap disukuri namun setelah kejadian itu bang hasan sudah tidak mau lagi menoleh ke arah jam dinding yang terdapat di ketiga sisi dari tugu Ikan Arwana itu, Tugu yang melambangkan bahwa gantong adalah satu-satunya tempat di pulau belitong tercinta ini yang dihuni oleh spesies arwana tersebut ikan yang tergolong langka serta endemik sungai lenggang sungai terpanjang dan terbesar di pulau belitong, sungguh hebat si arwana memiliki tugu meskipun tak besar namun cukup untuk menunjukkan rasa hormat kepada speies langka tersebut, sangat di sayangkan arwana begitu di kenang  namun sang pahlawan di lupakan begitu saja tak ada satupun tugu atau sebongkah beton , serta monument untuk mengenang pahlawan di kampong ini atau mungkin kampong ini tak memiliki pahlawan perjuangan atau pahalwan reformasi atau mungkin pahlawan timah yang memperjuangkan hak-hak masyarakat untuk bisa menambang timah entahlah inikan gantong bukan surabaya aku saja yang berpikirnya terlalu mendalam. Perasaan bingung menghampiriku mengapa bang hasan tak mau lagi menoleh ke tugu arwana apakah mungkin dia kecewa karena itu tugu Arwana kenapa tidak tugu Cempedik saja yang lebih jelas speies endemik  sungai lenggang kalau arwanakan masih banyak terdapat di daerah lain bahkan ada yang sudah membudidayakannya.



            Sulit untuk menjawabnya  namun jika melihat langsung ketempat kejadian perkara rasanya aku bisa menjawab pertanyaanku sendiri  mengapa bang hasan tak mau lagi menoleh ke tugu ikan arwana tersebut setelah di telusuri dan di pelajari dengan hati-hati dan penuh ketelitian semuanya terjawab dengan mudah ternyata ke tiga ( III ) jam dinding yang menempel di Tiga Sisi Tugu Arwana Tersebut semua Jarum jamnya menujukan angka yang berbeda dan tak sama satu sama lainnya padahal sekarang ini pukul empat ( IV ) sore namun jarum  jam di sisi yang pertama menunjuk ke arah angka 1, disisi yang kedua menunjuk ke angka  2 dan di sisi ketiga menunjuk pada angka 7. Untuk sementara ku simpulkan saja banwa 1 + 2 = 3 dan 7 – 3 = 4 maka sekarang adalah pukul 4 mungkin bang hasan yang kurang mengerti bagaimana cara melihat  jam dinding yang ada di ketiga sisi Tugu Ikan Arwana mungkin juga masih ada rasa kecewa kepada jam dinding tersebut yang menunjukan waktu yang menurutnya tidak akor . Namun lebih jelasnya dari awal tugu itu didirikan dan jam dinding itu di letakkan jam –jam tersebut hanya berfungsi kurang lebih tiga bulan karena jam tersebut di pasang di akhir agustus sedangkan di awal Desemember kampung kami telah memasuki musim penghujan sepertinya jam tersebut masuk angin ketika hujan lebat petir kilat menghampiri kampong kami tepat di tanggal 3 Desember  kemarin sesaat setelah pemakamam Ibunda dari Noveng ia adalah sahabat paling nekat yang selalu dekat,ramah dan hangat sungguh tersentak saat ku terima kabar bahwa ibundanya telah tiada. Pelukan eratnya serta tangisan dan air mata yang jatuh dari pipinya membuat hati semakin teriris sedih, kasihan sekali sahabat ku yang bersahaja dan manja kapada sang ibunda harus di tinggalkan untuk selama-lamanya oleh sang ibunda tercinta. Sepertinya duka sedang menyelimuti persahabatan ini seminggu yang lalu gadis bersuara merdu harus mengikhlaskan kepergian ayah kebanggannya untuk menghadap sang pencipta dan sebelumnya lagi gadis nan ayu di kelas kami harus menerima kenyataan bahwa sang ayahanda tak lagi bisa bersamanya karena telah lebih dahulu di panggil oleh yang maha kuasa. Sungguh Tak ku percaya ini semua seperti mimpi mengapa musibah itu harus menimpa mereka mungkin inilah yang di maksudkan dengan takdir  yang telah di atur oleh sang pencipta.



Belitung, 28 November 2013
                                                                penulis

Anugrah Agung Setiawan