Belitung Timur adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di Belitung Timur terdapat sebuah kampung atau dalam bahasa Melayu Belitung disebut Kampong. Sebuah kampong bernama Penyok itu kini lebih dikenal sebagai Desa Batu Penyu.
Di Kampong Penyok terdapat lebih dari 30 kepala keluarga yang masih memiliki ikan keluarga antar satu dan lainnya. Memiliki kepercayaan untuk tidak mengkonsumsi ikan air tawar jenis Patin. Kepercayaan tersebut berasal dari cerita atau kisah turun temurun yang selalu di ceritakan kepada setiap anggota keluarga.
Dalam ceritanya dikisahkan bahwa nenek moyang keluarga tersebut adalah seekor ikan Patin dan sehingga dilarang mengkonsumsi ikan patin hingga tujuh turunan. Menurut salah seorang narasumber yaitu Anugrah Agung Setiawan atau lebih dikenal sebagai Angga Putu Soemardi dirinya menjelaskan bahwa ia, kedua adiknya, dan saudara sepupunya dari sebelah ibu merupakan turunan ke empat.
"Kalo saya, adik saya, dan sepupu dari sebelah ibu itu baru turunan ke-empat" Jelas Angga. Sehingga menurutnya masih ada sisa tiga turunan lagi dan itu artinya anak dari cucunya kelak masih dilarang untuk mengkonsumsi ikan air tawar jenis Patin.
Mereka mempercayai cerita turun temurun tersebut dikarenakan beberapa anggota keluarga yang pernah tidak sengaja mengkonsumsi ikan Patin mengalami gangguan penyakit berupa gatal-gatal pada kulit. Meskipun telah diobati secara medis anggota keluarga yang mengalami gatal-gatal tetap tidak sembuh.
Biasanya anggota keluarga baru akan sembuh apabila telah mengakui kesalahannya karena telah dengan sengaja atau tidak sengaja mengkonsumsi ikan Patin yang menurut kepercayaan keluarga secara turun-temurun dianggap sebagai nenek moyang mereka.
Tidak hanya sampai di situ setelah mengakui kesalahannya, anggota keluarga tersebut dibantu anggota keluarga lainnya atau orang-orang khusus diluar keluarga melakukan pengobatan dengan cara-cara khusus atau disebut dalam bahasa Melayu Belitung (nyempulik atau nyempulik-en).
Setelah proses nyempulik atau nyempulik-en selesai dilakukan anggota keluarga yang mengalami sakit akan sembuh dengan sendirinya.
Secara teoritis suatu kepercayaan yang hidup pada sebuah komunitas atau organisasi atau yang mempercayai adanya daya atau sifat ilahi yang dikandung sebuah benda atau makhluk hidup selain manusia disebut dengan Totemisme.
Kepercayaan totemisme biasanya diikuti dengan beberapa aturan terkait totem yang mereka percayai, misalnya, komunitas tidak boleh menyakiti, membunuh atau memakan binatang yang dianggap sebagai totem.
Totem dipuja, dihormati atau disakralkan karena berhubungan dengan klan tersebut. Dongeng tertentu biasanya mengaitkan totem tersebut karena berhubungan dengan eksistensi komunitasnya, biasanya diwarisi dari nenek moyang mereka.
Totemisme lazim hidup di Afrika, Amerika dan banga-bangsa di Kepulauan Pasifik. Banyak suku di Amerika kemudian membentuk simbol totem mereka pada patung maupun ukiran kayu.
Emile Durkheim seorang sosiolog asal Prancis mengemukakan bahwa totemisme tidak bersifat individual, selalu terkait dengan nilai komunitas.
Terdapat tujuh butir analisis yang kami dapatkan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara serta dikaitkan dengan teori totemisme sebagai berikut:
1. Terdapat sekelompok kepala keluarga yang antara satu dan lainnya masih memiliki hubungan darah di Kampong Penyok.
2. Kelompok keluarga tersebut memiliki kepercayaan yang hidup atau tumbuh (karena turun temurun diceritakan) akan tetapi mereka bukanlah komunitas ataupun organisasi sebagai mana yang dijelaskan teori melainkan kumpulan beberapa kepala keluarga.
3. Terdapat suatu larangan untuk memburu, membunuh dan mengkonsumsi ikan air tawar jenis Patin. Sebagaimana yang dikemukakan oleh teori totemisme.
4. Terdapat dongeng atau cerita yang dikisahkan secara turun-temurun.
5. Bentuk penghormatan yang diberikan berupa menaati larangan mengkonsumsi ikan Patin, namun tidak sampai meletakkan simbol-simbol berupa patung ataupun lukisan ikan patin di lingkungan rumah.
6. Mereka mempercayai adanya daya (pada ikan patin) namun bukan sifat ilahi (pada ikan patin). Daya yang mereka percayai ialah berupa bukti nyata hukuman menderita penyakit kulit yang tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan medis melainkan hanya dapat disembuhkan melalui pengobatan dengan cara-cara khusus yang dilakukan oleh anggota keluarga tertentu atau orang lain (khusus) di luar anggota keluarga yang disebut dengan istilah nyempulik atau nyempulik-en.
7. Totem ini muncul di kota Pontianak dan pulau Belitung (khusunya kampong Penyok) sebagai tempat terbanyak anggota keluarga bertempat tinggal. Sedangkan menurut teori, totemisme biasanya muncul di Afrika, Amerika, dan kepulauan Pasifik.
Totemisme ternyata tidak hanya terdapat di Afrika, Amerika dan Kepulauan Pasifik. Melainkan juga ada di Indonesia khususnya dalam Totem ikan patin yang terdapat di Pontianak dan Pulau Belitung (Kampong Penyok).
Berdasarkan analisis terdapat beberapa perbedaan antara teori totemisme dengan totem ikan patin yang ada di Kota Pontianak dan Pulau Belitung.
Adalah suatu kebenaran apa yang dikemukakan oleh Sosiolog asal Prancis Emile Durkheim bahwa totemisme tidak bersifat individual, dan selalu terkait dengan nilai komunitas. Meskipun dalam Totem ikan patin komunitas yang ada adalah kumpulan atau sekelompok kepala keluarga yang ada di Desa Batu Penyu, Kecamatan Gantung, Belitung Timur.
Demikianlah tulisan singkat ini, mohon maaf apabila terdapat kekeliruan dalam pengetikan. Semoga bermanfaat.