Hujan di rabu senja

Persis seminggu yang lalu, sore itu kita sedang berjalan bergandengan tangan menikmati keindahan hutan pinus dan udara yang sejuk sembari mengingat memori demi memori di masa lalu yang pernah kita lewati. Sesekali kita berhenti melangkah dan mengabadikan beberapa gambar, berfoto bersama dengan gaya-gaya yang lucu dan aneh.

Namun ketika aku baru akan mereka ulang kapan terakhir kali kita berjalan berdua seperti ini, tiba-tiba saja kabut telah mengelilingi kita di sertai dengan tetesan-tetesan air hujan yang sepertinya mengingingkan kita untuk cepat beranjak dari tempat ini.

Semakin erat genggaman tangan yang sejak awal kedatangan kita ketempat ini telah melinggkar hangat, sembari berlari-lari kecil menuju pendopo terdekat untuk berteduh dan benar sekali air yang jatuh menghempas bumi itu membuat kita harus berteduh dan mereka ulang yang telah terjadi di masa lalu bersamaan dengan ribuan tetesan air yang membasahi tanah membuatnya menjadi sedikit berlumpur.

Namun selang beberapa saat sepertinya ribuan air itu mulai mereda sudah lelah untuk turun dan menodai tanah, genggaman tangan yang melingkar hangat seperti tak ingin terlepas masih saja melekat disertai dengan rebahan kepala yang terlihat begitu lelah di pundakku.

Aku tak berucap sepatah katapun mencoba menikmati suasana dan mengingat-ingat kapan hal seperti ini terjadi mungkin 5 atau 6 tahun yang lalu, waktu yang cukup lama bagiku untuk menahan rindu dan menantikan momen itu terulang kembali.

Aku merasakan seperti tak ada yang berubah genggaman tangan itu, keikhlasan tubuh itu untuk bersandar dan senyum yang terpancar dari wajah kedua insan tersebut seperti kumbang yang menemukan bunga untuk di isap sarinya.  Hujan dan angin dingin dan kabut yang menyelimuti telah menghantarkan dua insa ini kembali menuju memori-memori indah yang pernah mereka lewati bersama.

0 komentar:

Posting Komentar