Sepertinya hari indah itu baru saja aku lewati bersamamu beberapa menit lalu. Hari dimana aku dan kamu selalu terlibat bahagia dalam setiap langkah perjalanan kisah cinta kita.
Seperti pada Sabtu malam di bulan Desember 2015, pada malam itu aku mengungkapkan sebuah rasa yang tersimpan dalam relung hati, aku katakan bahwa aku mencintaimu. Senyuman dan anggukan yang kau lontarkan, dan tanpa ragu kau juga mengatakan bahwa dirimu juga mencintaiku.
Perasaanku yang berbunga-bunga, hatiku yang begitu bahagia. Tubuhku dan tubuhmu saling memeluk erat dengan penuh rasa, hingga tak kita sadari bibir itu menari-nari bergerak ke sana kemari tak tentu arah mengungkapkan rasa membawa pesan cinta.
Hari demi hari berlalu, purnama berganti, waktu berputar, Minggu demi Minggu terlewati, bulan demi bulan kita lalui, dengan penuh bahagia dan suka cita. Hingga pada akhirnya kau pergi tanpa kabar, tak meninggalkan jejak, tak tahu kemana, menghilang begitu saja ? Tanpa alasan, tanpa ucapan, tanpa ciuman, dan tanpa perpisahan.
Sejak kepergianmu itu aku mendadak jadi pendiam, tak mampu bicara, tak ada kata yang terlontar, hanya hati yang bergetar. Aku menanti kepulanganmu, menatapi purnama, berdoa kepada Tuhan, merindukanmu, berharap kau segera kembali. Aku berjalan mencarimu di setiap gelap datang, hingga siang menjelang. Kaki-kaki yang terus melangkah tak tentu arah, dan pada purnama ke 12 aku melihat bayanganmu dalam sebuah ingatan memori masa lalu.
Aku gugup, aku diam dan aku penasaran apakah itu kamu ? Atau itu hanya halusinasiku. Ketika waktu yang ku tunggu tiba, aku tetap setiap menanti hingga pada akhirnya kita dipertemukan lagi dalam suasana yang gaduh, Spektrum warna yang membara menyinari pertemuan itu, semakin indah ketika kuning berganti biru lembayu di tepian kota tempat kita saling berbagi, dahulu ketika tubuh itu masih menyatu dengan tubuhku dalam sebuah pelukan yang hangat dan selalu kau rindukan.
Semuanya berbeda tak nampak lagi ke sunyian dan sebuah keromantisan yang ada hanyalah kegaduhan, yang terucap hanyalah saling menyalahkan dan melontarkan beberapa tudingan-tudingan yang tak seharusnya kau tuduhkan.
Dan pada akhirnya aku menyadari bahwa itu semua caramu memberitahuku bahwa dirimu tak lagi sejalan, tak lagi sama, tak lagi indah seperti purnama ke 12. Kini kau telah berfotosintesis berkembang menjadi makhluk liar dan bebas kini kau telah tumbuh lebih cepat dari yang pernah aku bayangkan. Kini langkahmu tak lagi sejalan denganku, kini jejakmu perlahan terhapuskan oleh kekecewaan, kini kau melangkah pasti dan langkahmu tak lagi sendiri. Kepergianmu bukan tak beralasan kepergianmu itu adalah sebuah proses yang cukup panjang untuk menemukan sebuah kehidupan baru, hingga akhirnya kau bertemu dengan senyawa baru, berkembang dalam sebuah ovarium dan melahirkan kisah cinta yang baru bersama dengan senyawa baru yang lebih baik dari pada aku.
Semua baru yang telah kau pilih untuk mendampingimu, membuatmu lebih bahagia, memberikanmu lebih banyak tawa, hingga pada akhirnya kau lupa bahwa aku juga bagian darimu yang telah kau singkirkan dalam sebuah kenangan masa lalu, membuat keberadaanku menjadi tak berarti, dan inilah catatan kecil untuk kisah yang telah usai.
Anugrah Agung Setiawan
Yogyakarta, 24 Mei 2016.

0 komentar:
Posting Komentar