24 November 2018, pukul 22:54 WIB beberapa menit menuju 25 November 2018.
Izinkan saya sedikit bercerita tentang kesombongan kami selaku manusia. Dalam cerita kali ini saya hanya akan bercerita tentang salah satu dari sekian banyak kesombongan kami selaku manusia.
Tadi siang saya memposting berita tentang Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sejak Juni 2018 Merapi memang telah menunjukkan aktivitas vulkanisnya dan sempat mengeluarkan hembusan atau erupsi freatik sekitar 5 bulan yang lalu.
Gunung Merapi yang merupakan gunung api teraktif di Indonesia dalam siklusnya yaitu sekitar 4 tahun sekali sering memuntahkan isi perutnya yang berupa lava pijar, gas beracun, abu vulkanis, kerikil, bebatuan dll. Namun setelah memuntahkan isinya dengan cukup dahsyat pada 2010 merapi telah tertidur kurang lebih selama delapan tahun hingga 2018 ini.
Barulah ia memberikan tanda-tanda bahwa dirinya tak pernah ingkar janji dan mengeluarkan hembusan yang disertai dengan pertumbuhan kuba lava sejak Agustus lalu. Memasuki penghujung bulan ini, pada hari Jum'at, 23 November 2018. Merapi telah mengeluarkan lava pijar untuk pertama kalinya.
Merapi yang memuntahkan lava pijar menjadi pertanda bahwa gunung tersebut telah semakin mendekati harinya untuk memuntahkan material yang lain. Oleh karena itu BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) terus memberikan info terkait perkembangan status Merapi melalui akun media sosialnya yaitu Instagram.
Saya selaku mahasiswa yang tinggal di wilayah yang katakanlah berkemungkinan besar terdampak dari erupsi Merapi jikalau ia meletus. Memutuskan untuk mengikuti dan memantau terus perkembangan merapi melalui akun media sosial BPPTKG. Karena saya merasa info tersebut tidak cukup hanya syaa ketahui sendiri maka saya memutuskan untuk membagikan info tersebut di status WhatsApp.
Akan tetapi niat baik saya malah di cemooh oleh salah satu kesombongan kami selaku manusia. Kesombongan ini datang dari teman saya yang juga manusia yang juga Sombong karena ia manusia. Ia yang kurang dari setahun memperoleh gelar sarjana teknik (ST) dalam program studi teknik geologi mengomentari status saya dengan mengatakan "Geologi NET" saya tidak merespon ha tersebut.
Selanjutnya ia menambahkan "tau apa kamu tentang geologi, saya ini sarjana geologi yang lebih tau biasa-biasa aja".
Saya memang bukan ahli dalam geologi namun saya hanya membagikan informasi terkait Merapi dari para ahli yang berkerja di Pos pengamatan dan BPPTKG. Anda memang sarjana di bidang itu namun saat ini anda tidak tinggal di wilayah yang akan terdampak bencana.
Terkadang saya bingung mengapa ilmu bisa membuat kami manusia menjadi sangatlah sombong. "Ya Allah meskipun aku terseok-seok mengerjakan skripsi jangan jadikan aku orang yang sombong ya Allah. Karena tanpa kehendak-Mu aku bukanlah apa-apa. Aku hanyalah hamba-Mu ya Allah, yang hanya bisa berencana namun segalanya engkau yang menentukan".

